MAKALAH PENGANTAR MANAJEMEN
BISNIS
DASAR – DASAR AKUNTANSI
Disusun Oleh:
DICKY
RUSADI (1695124008)
DZIKIR
MULYA S. (1695124009)
IHZA
DANY E. T. (1695124010)
Dosen Pembimbing:
IGL
Putra Eka Prismana, S. Kom, M. Kom
Radityo
Wiratsongko, S. Kom, M. M
PRODI
SISTEM
INFORMASI
FAKULTAS
TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS
HASYIM ASY’ARI
TEBUIRENG-JOMBANG
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWTkarena telah
melimpahkan rahmatNya sehingga makalah Jenis – Jenis Laporan Keuangan ini dapat
terselesaikan pada waktunya.selawat dan salam, marilah sama-sama kita
lambungkan kepada janjungan alam semesta Muhammad S A W. Dimana oleh beliau
telah membawa kita dari alam yang tidak berilmu pengetahuan ke alam yang penuh
ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini, Makalah ini dibuat guna
untuk menambah wawasan kita semua dan juga awal untuk memulai dasar akuntansi.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Laporan keuangan disusun berdasarkan
Standar Akuntansi Keuangan
Wardhani (2008) menyatakan
fleksibilitas akan mempengaruhi perilaku manajer dalam melakukan pencatatan
akuntansi dan pelaporan transaksi keuangan perusahaan. Kebebasan dalam memilih
metode ini, dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan laporan keuangan yang
berbeda-beda di setiap perusahaan. Karena aktivitas perusahaan yang dilingkupi
dengan ketidakpastian maka penerapan prinsip konservatisme menjadi salah satu
pertimbangan perusahaan dalam kaitannya dengan akuntansi dan laporan
keuangannya. Konsep ini mengakui biaya dan rugi lebih cepat, mengakui
pendapatan dan untung lebih lambat, menilai aktiva dengan nilai yang terendah,
dan kewajiban dengan nilai yang tertinggi.
Konservatisme merupakan prinsip
akuntansi yang jika diterapkan akan menghasilkan angka-angka pendapatan dan
aset cenderung rendah, serta angka-angka biaya cenderung tinggi. Akibatnya,
laporan keuangan akan menghasilkan laba yang terlalu rendah (understatement).
Kecenderungan seperti itu terjadi karena konservatisme menganut prinsip
memperlambat pengakuan pendapatan serta mempercepat pengakuan biaya. Secara
tradisional, konservatisme dalam akuntansi dapat diterjemahkan
melalui pernyataan tidak mengantisipasi keuntungan, tetapi megantisipasi semua
kerugian (Watts, 2003a)
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan Makalah
ini yaitu:
- Untuk mengetahui pengertian akuntansu
- Mengetahui poin penting dari akuntansi
BAB II
Landasan
Teori
A.
Pengertian Akuntansi
Akuntansi adalah suatu proses
mencatat, mengklasifikasi, meringkas, mengolah dan menyajikan data, transaksi
serta kejadian yang berhubungan dengan keuangan sehingga dapat digunakan oleh
orang yang menggunakannya dengan mudah dimengerti untuk pengambilan suatu keputusan
serta tujuan lainnya.
Akuntansi berasal dari kata asing
accounting yang artinya bila diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia adalah
menghitung atau mempertanggungjawabkan. Akuntansi digunakan di hampir seluruh
kegiatan bisnis di seluruh dunia untuk mengambil keputusan sehingga disebut
sebagai
bahasa bisnis.
B.
Fungsi Akuntansi
Fungsi utama akuntansi adalah sebagai informasi keuangan suatu organisasi. Dari laporan akuntansi kita bisa melihat posisi keuangan sutu organisasi beserta perubahan yang terjadi di dalamnya. Akuntansi dibuat secara kualitatif dengan satuan ukuran uang. Informasi mengenai keuangan sangat dibutuhkan khususnya oleh pihak manajer / manajemen untuk membantu membuat keputusan suatu organisasi.
C. Laporan Dasar Akuntansi
Pada dasarnya proses akuntansi akan membuat output laporan rugi laba, laporan perubahan modal, dan laporan neraca pada suatu perusahaan atau organisasi lainnya. Pada suatu laporan akuntansi harus mencantumkan nama perusahaan, nama laporan, dan tanggal penyusunan atau jangka waktu laporan tersebut untuk memudahkan orang lain memahaminya. Laporan dapat bersifat periodik dan ada juga yang bersifat suatu waktu tertentu saja. Pihak Yang Menggunakan dan Membutuhkan Informasi / Laporan Akuntansi – Belajar Ilmu Akutansi / Accounting
1. Pihak Internal
Pihak internal adalah pihak yang
berada dalam struktur organisasi. Manajemen adalah pihak yang paling
membutuhkan laporan akuntansi yang tepat dan akurat untuk mengambil keputusan
yang baik dan benar. Contohnya seperti manajer yang melihat posisi keuangan
perusahaan untuk memutuskan apakah akan membeli gedung untuk kanntor cabang
baru atau tidak.
2.
Pihak Eksteral / External
a.
Investor
Investor membutuhkan informasi keuangan perusahaan untuk
menentukan apakah akan menanamkan modalnya atau tidak. Jika dalam prediksi
investor akan memberikan keuntungan yang baik, maka investor akan menyetorkan
modal ke perusahaan, dan begitu juga sebaliknya.
b. Pemegang saham / pemilik perusahaan
b. Pemegang saham / pemilik perusahaan
Para pemilik perusahaan yang mempunyai bagian saham
perusahaan membutuhkan informasi keuangan perusahaan untuk dapat mengetahui
sejauh mana kemajuan atau kemunduran yang dialami perusahaan. Pemegang saham
akan mendapatkan keuntungan dari dividen yang akan semakin besar jika perusahaan
untung besar.
c. Pemerintah
Besarnya pajak yang harus dibayarkan
perusahaan atau organisasi kepada pemerintah sebagaian besar berdasarkan atas
informasi pada laporan keuangan perusahaan.
d. Kreditur
Jika perusahaan sedang terdesak dan
membutuhkan dana segar perusahaan mungkin akan meminjam uang pada kreditor
seperti meminjam uang di bank, berhutang barang pada supplyer / pemasok.
Kreditur akan memberikan dana jika perusahaan memiliki kondisi keuangan yang
baik dan tidak akan memiliki potensi yang besar untuk merugi.
e. Pihak Lainnya
Sebenarnya masih banyak pihak lain
dari luar perusahaan perusahaan yang mungkin saja akan menggunakan laporan /
informasi akuntansi suatu organisasi seperti para karyawan, serikat pekerja,
auditor akuntan publik, polisi, pelajar / mahasiswa, wartawan, dan banyak lagi
lainnya.
D. Macam dan Jenis Perkiraan atau Akun dalam Akuntansi : Harta / Aset / Aktiva, Kewajiban / Hutang / Pasiva dan Modal – Akutansi
D. Macam dan Jenis Perkiraan atau Akun dalam Akuntansi : Harta / Aset / Aktiva, Kewajiban / Hutang / Pasiva dan Modal – Akutansi
1. Harta / Aset / Aktiva
Harta adalah benda baik yang
memiliki wujud maupun yang semu yang dimiliki oleh perusahaan. Klaim atas harta
yang tidak berwujud disebut ekuitas / equities yang dapat mendatangkan manfaat
di masa depan.
a. Harta Lancar / Aktiva Lancar / Current Assets
Harta lancar adalah harta yang
berbentuk uang tunai maupun aktiva lainnya yang dapat ditukarkan dengan uang
tunai dalam jangka satu tahun.
Contoh : piutang dagang, biaya atau
beban dibayar di muka, surat berharga, kas, emas batangan, persediaan barang
dagang, pendapatan yang akan diterima, dan lain sebagainya.
b. Harta Investasi / Aktiva Ivestasi / Investment Assets
b. Harta Investasi / Aktiva Ivestasi / Investment Assets
Harta Investasi adalah harta yang
diinvestasikan pada produk-produk investasi untuk mendapatkan keuntungan.
Contoh : Reksadana, saham, obligasi,
dan lain-lain.
c. Harta Tak Berwujud / Intangible Assets
Aset tak berwujud adalah harta yang
tidak memiliki bentuk tetapi sah dimiliki perusahaan dan dapat menghasilkan
keuntungan bagi perusahaan.
Contoh : Merk dagang, hak paten, hak
cipta, hak pengusahaan hutan / hph, franchise, goodwill, dan lain sebagainya.
d. Harta Tetap / Aktiva Tetap / Fixed Assets
Harta tetap adalah harta yang
menunjang kegiatan operasional perusahaan yang sifatnya permanen
kepemilikannya.
Contoh : Gedung, mobil, mesin,
peralatan dan perlengapan kantor, dan lain-lain.
e. Harta Lainnya / Other Assets
Harta lain adalah perkiraan atau
akun yang tidak dapat dikategorikan pada harta atau aset di atas baik dalam
bentuk aset tetap, aset investasi, aset tak berwujud dan aset lancar.
Contoh : Mesin rusak, uang jaminan, harta yang masih dalam proses kepengurusan yang sah, dan lain-lain.
2. Kewajiban / Hutang / Pasiva / Liabilities
Contoh : Mesin rusak, uang jaminan, harta yang masih dalam proses kepengurusan yang sah, dan lain-lain.
2. Kewajiban / Hutang / Pasiva / Liabilities
Hutang adalah kewajiban perusahaan
pada pihak ketiga untuk melakukan sesuatu yang pada umumnya dalah pembayaran
uang, penyerahan barang maupun jasa pada waktu-waktu tertentu.
a. Hutang Lancar / Kewajiban Lancar
/ Current Liabilities
Hutang lancar adalah kewajiban yang
harus dilunasi dalam tempo satu tahun.
Contoh : hutang dagang, beban yang harus dibayar, hutang dagang, hutang pajak, pendapatan diterima di muka, dan lain sebagainya.
Contoh : hutang dagang, beban yang harus dibayar, hutang dagang, hutang pajak, pendapatan diterima di muka, dan lain sebagainya.
b. Hutang Jangka Panjang / Long-Term Liabilities
Hutang jangka panjang adalah
kewajiban yang harus dilunasi dalam jangka waktu lebih dari setahun.
Contoh : Hutang hipotek, hutang obligasi yang jatuh tempo lebih dari setahun, hutang pinjaman jangka panjang, dan lain sebagainya.
Contoh : Hutang hipotek, hutang obligasi yang jatuh tempo lebih dari setahun, hutang pinjaman jangka panjang, dan lain sebagainya.
c. Hutang lain-lain / Other Payable
Perkiraan atau akun ini digunakan
untuk mencatat hutang lain yang tidak termasuk pada hutang lancar dan hutang
jangka panjang.
Contoh : uang jaminan, hutang pada
pemegang saham, dan lain sebagainya.
3. Modal / Capital
Modal adalah hak milik atas kekayaan
dan harta perusahaan yang berbentuk hutang tak terbatas suatu perusahaan kepada
pemilik modal hingga jangka waktu yang tidak terbatas. Rumus modal adalah harta
atau aset dikurangi dengan kewajiban atau hutang.
Contoh Modal : modal disetor, prive,
modal komanditer, laba ditahan, agio saham, saham preferen & biasa,
simpanan-simpanan, sisa hasil usaha atau shu, dan lain sebagainya.
Tambahan :
Tambahan :
- Rumus Aktiva —> Aktiva = Kewajiban
+ Modal
Proses Akuntansi Dasar –
Klarifikasi, Pencatatan, Merangkum, Interpretasi Dan Pelaporan – Pengetahuan
Dasar Akutansi
Akutansi memiliki proses yang
terdiri dari tahapan-tahapan untuk dapat menghasilkan laporan yang diinginkan
dan dilakukan oleh akuntan.
1. Proses Mengklarifikasi Transaksi
Tahap yang awal ini adalah di mana
dilakukan suatu pembagian transaksi suatu organisasi atau perusahaan ke dalam
jenis-jenis tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.
Contoh seperti membagi transaksi
yang masuk ke dalam penjualan, pembelian, pengeluaran kas, penerimaan kas dan
lain sebagainya ke dalam masing-masing bagian. Sedangkan untuk transaksi yang
jumlahnya kecil dan jarang terjadi bisa sama-sama dimasukkan ke dalam jenis
kategori yang sama yaitu transaksi rupa-rupa.
2. Proses Mencatat Dan Merangkum
Setelah melakukan pengklarifikasian
data selanjutnya adalah melakukan pencatatan. Masukkan transaksi yang ada ke
dalam jurnal yang tepat sesuai urutan transaksi terjadi atau kejadiannya.
sumber-sumber yang dapat dijadikan bukti adanya transaksi yaitu seperti
kertas-kertas bisnis semacam bon, bill, nota, struk, sertifikat, dan lain
sebagainya. Jurnal yang umumnya ada pada jurnal akuntasi yaitu seperti jurnal
penjualan, jurnal pembelian, jurnal penerimaan kas, jurnal pengeluaran kas dan
jurnal umum. Setelah transaksi dimasukkan ke dalam jurnal-jurnal yang ada, maka
selanjutnya adalah memasukkan jurnal ke dalam buku besar secara berkala. Hasil
pemindahan ke dalam buku besar tersebut akan terlihat dari rangkuman neraca
percobaan.
3. Proses Menginterpretasikan Dan Melaporkan
Setelah kedua proses di atas
dijalankan, maka proses yang terakhir adalah melakukan pembuatan kesimpulan
dari kegiatan atau pekerjaan laporan keuangan sebelumnya. Segala hal yang berhubungan
dengan keuangan perusahaan diungkapkan pada laporan keuangan tersebut.
Dari informasi laporan keuangan baik dalam bentuk laporan rugi laba, laporan modal dan neraca seseorang dapat mengetahui apa yang terjadi pada suatu perusahaan, apakah sudah sesuai dengan tujuan perusahaan dan informasi tersebut dapat menjadi acuan atau pedoman bagi manajemen untuk mengambil keputusan kebijakan pada organisasi perusahaan demi mencapai kondisi yang diinginkan.
Dari informasi laporan keuangan baik dalam bentuk laporan rugi laba, laporan modal dan neraca seseorang dapat mengetahui apa yang terjadi pada suatu perusahaan, apakah sudah sesuai dengan tujuan perusahaan dan informasi tersebut dapat menjadi acuan atau pedoman bagi manajemen untuk mengambil keputusan kebijakan pada organisasi perusahaan demi mencapai kondisi yang diinginkan.
Memahami Persamaan Akuntansi (Contoh
Kasus Sederhana Sehari-Hari) Dalam belajar akuntansi sangat penting untuk
mengetahui persamaan akuntansi, persamaan akuntansi ini sangat berguna dalam
penyusunan laporan keuangan. Dengan menggunakan transaksi sehari-hari dan
sederhana sebagaimana yang diuraikan dalam Belajar Akuntansi Debet dan Kredit,
maka kita dapat mempelajari bagaimana caranya mencatat transaksi pada sisi
debet dan sisi kredit.
Berdasarkan yang telah dipelajari
dalam catatan Belajar Akuntansi Debet dan Kredit maka dapat kita bentuk
persamaan akuntansinya dengan cara sebagai berikut :
1. Lihatlah posisi positif pada
masing-masing unsur akuntansi sebagaimana yang telah dibahas dalam Belajar Akuntansi
Debet dan Kredit, yaitu:
- Aset bertambah berada pada posisi debet
- Kewajiban bertambah berada pada posisi
kredit
- Ekuitas/Modal bertambah berada
pada posisi kredit
- Pendapatan bertambah berada pada
posisi kredit
- Biaya/Beban bertambah berada pada
posisi debet
2. Dengan melihat tanda positifnya maka dapat kita bentuk persamaan akuntansinya, yaitu unsur akuntansi sisi debet sama dengan unsur akuntansi sisi kredit, dengan persamaan sebagai berikut:
ASET + BIAYA = KEWAJIBAN + MODAL +
PENDAPATAN
3. Dalam akuntansi; Aset, Kewajiban dan Modal merupakan komponen Neraca, sedangkan Pendapatan dan Biaya merupakan kelompok Laba (Rugi), atas hal tersebut, maka persamaan akuntansi dapat disederhanakan menjadi
- Kelompok Neraca, dengan persamaan
akuntansi sebagai berikut: ASET = KEWAJIBAN + MODAL
Dalam persamaan ini dapat disimpulkan bahwa aset yang kita miliki didapat dari pinjaman dan atau dari modal
Dalam persamaan ini dapat disimpulkan bahwa aset yang kita miliki didapat dari pinjaman dan atau dari modal
- Kelompok Laba (Rugi) dengan persamaan akuntansi sebagai berikut:
LABA (RUGI) = PENDAPATAN – BIAYA
Dalam persamaan ini dapat disimpulkan bahwa apabila Pendapatan lebih besar dari Biaya, maka selisihnya diakui sebagai Laba, jika Pendapatan lebih kecil dibandingkan dengan Biaya, maka selisihnya akan diakui sebagai Rugi
4. Hubungan Neraca dengan Laba (Rugi)
Laporan laba (rugi) merupakan
transaksi yang dilakukan untuk satu periode tertentu dan hasil dari laba (rugi)
akan mempengaruhi modal yang dimiliki.
Hal ini berarti jika kita mengalami
laba maka modal yang kita miliki akan bertambah sebesar laba yang diperoleh,
sedangkan jika mengalami kerugian maka secara otomatis modal yang kita miliki
akan berkurang sebesar kerugian. Dengan demikian persamaan akuntansi untuk
modal adalah sebagai berikut
MODAL = MODAL DISETOR + LABA (RUGI)
BAB III
PENUTUP
Puji syukur kami haturkan kepada Allah SWT, atas
terselesaikannya makalah ini yang semoga mamperluas cakrawala pengetahuan kita
dan bermanfaat bagi kita semua
Mungkin makalah ini jauh dari kesempurnaan untuk itu kami
membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah
ini.
Kami mohon maaf apabila penulisan makalah yang kami buat
terdapat kesalahan karena kami masih dalam tahap belajar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar